Hukum, Masyarakat Dan Kearifan Lokal Sebagai Modal Sosial Di Aceh: Catatan Awal
Main Article Content
Abstract
In the context of Aceh, its society and social-ecnonomic development, based on a number of literatures, the meaning of local wisdom can be drawn from the values, norms, laws and knowledge formed by religious teachings, beliefs, traditional values and experiences inherited from ancestors ultimately forming a local knowledge system that is used to solve everyday problems by the community. Aceh, as a region, in addition to following national law practices and provisions, also has customary institutions and traditional / cultural values with its own management that involves community leaders who know a great deal about local wisdom in the region. This is where the roles of traditional leaders, religious leaders and socio-cultural figures are considered important in harmonizing local wisdom with spatial regulation and environmentally sustainable development
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Copyright Notice

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.Penulis.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (Refer to The Effect of Open Access).
References
Rachmad Safa’at. Rekonstruksi Politik Hukum Pangan dari Ketahanan Pangan ke Kedaulatan Pangan. (Malang: UB Press, 2013), hlm. 3.
Rachmad Safa’at. “Kearifan lingkungan Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan: Analisis Kasus Masyarakat Adat Baduy dalam Konteks Pelaksanaan Otonomi Daerah.” Dalam Rachmad Safa’at, et.al. Negara, Masyarakat Adat dan Kearifan Lokal. (Malang: In-Trans Publishing, 2008), hlm. 61.
Sri Wahyuni, et.al. “Kearifan Lingkungan pada Masyarakat Aceh.” Dalam Bunga Rampai Kearifan Lingkungan. (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup, 2002), hlm. 586.
Jonny Purba. “Penataan Ruang Tradisional Sebagai Wujud Kearifan Lingkungan pada Masyarakat Batak Toba.” Dalam Bunga Rampai Kearifan Lingkungan. (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup, 2002), hlm. 654.
Darmawan M. Ali. “Pemerintahan Daerah Berbasis Kearifan Lokal.” Disertasi. (Malang: Program Doktor Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, 2013), hlm. 140.
Mauro Zamboni. The Policy of Law: A Legal theoritical framework. (Oxford and Portland Oregon: Hart Publishing, 2007).
Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari. Dasar-dasar Politik Hukum, cet. Ke-8, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), hlm. 40.
C.F.G. Sunaryati Hartono. Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional. (Bandung: Alumni, 1991), hlm. 1-2.
Bagir Manan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. (Yogyakarta: FH UII, 2001), hlm. 180.
Abdul Hakim G. Nusantara. Politik Hukum Indonesia. (Jakarta: YLBHI, 1988), hlm. 20.
Adi Sulistiyono. Negara Hukum: Kekuasaan, Konsep, dan paradigma Moral. (Surakarta: LPP dan UNS Press, 2008), hlm. 52. Sebagaimana dikutip oleh Muhammad Akib. Politik Hukum Lingkungan. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 6.
Imam Koeswahyono. Hukum Penatagunaan Tanah dan Penataan Ruang di Indonesia, (Problematika antara Teks dan Konteks). (Malang: UB Press, 2012), hlm. 104.
Mustafa Lutfi & Luthfi J. Kurniawan. Perihal Negara, Hukum dan Kebijakan Publik. Perspektif Politik Kesejahteraan, Kearifan Lokal, yang pro Civil Society dan Gender. (Malang: Setara Press, 2012), hlm. 13.
M. Solly Lubis. Kebijakan Publik. (Bandung: Mandar Maju, 2007), hlm. 5.
Thomas A. Birkland. An Introduction to the Policy Process, Theories, Concepts, and Models of Public Policy Making. Third Edition. (New York: M.E. Sharpe, Inc., 2011), hlm. 8.
Djoko Sujarto. Pilihan Strategis Suatu teknik Pengambilan Keputusan dalam Perencanaan Wilayah dan Kota. (Bandung: Penerbit ITB, 2001), hlm. 2.
Ibid, hlm. 4.
Robert J. Kodoatie, et.al. Tata Ruang Air. Pengelolaan Bencana, Pengelolaan Infrastruktur, Penataan Ruang Wilayah, Pengelolaan Lingkungan Hidup. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010), hlm. 406.
Edi Suharto. Modal Sosial dan Kebijakan Publik. Http://www.policy.hu/suharto, diunduh tanggal 6 Juli 2014., hlm. 2.
John Griffiths, “What is Legal Pluralism”, Journal of Legal Pluralism and Unoficial Law. Number 24/1986, hlm. 1.
Rikardo Simarmata, “Mencari Karakter Aksional dalam Pluralisme Hukum” dalam Tim HuMa, Pluralisme Hukum: Sebuah Pendekatan Interdisiplin, (Jakarta: Ford Foundation – HuMa, 2005), hlm. 7.
Satjipto Rahardjo, Budaya Hukum dalam Permasalahan Hukum di Indonesia, Ceramah Seminar Hukum Nasional ke IV, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta, 1979, hlm. 28.
I Nyoman Nurjaya. Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Perspektif Antropologi Hukum. (Malang: Universitas Negeri Malang, 2006), hlm. 33.
Bahan-bahan diambil dari BHM Vlekke, 2008, Nusantara: Sejarah Indonesia, Jakarta: KPG/Gramedia; MC Ricklefs, 2001, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Jakarta: Serambi; Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1993; Snouck Hurgronje, 1985 (1906), Aceh di Mata Kolonialis, Jakarta: Yayasan Soko Guru; Snouck Hurgronje, 1995 (1923), Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, Jakarta: INIS; “Aceh”, wikipedia, lihat: Agung Djojosoekarto, et.al. (Eds.). Kebijakan Otonomi Khusus Papua. (Jakarta: Kemitraan, 2008), hlm. 12.
Eko Budihardjo, et.al. Kota Berkelanjutan (Sustainable City). (Bandung: Alumni, 2009), hlm. 19.
Mulia Darmawan, Kearifan Lokal dalam Pembangunan Penataan Ruang. Di www. Mulia DarmawanBlog. Com. Diakses tanggal 9 Maret 2014.
Snouck Hurgronye. “The Achehnese”. Diterjemahkan oleh Singarimbun, et.al., Aceh Dimata Kolonialis. (Jakarta: Yayasan Soko Guru, 1985), hlm. 90.
Anthony Reid. “The Contest for North Sumatera, the Netherlands and Britain 1858-1898.” Oxford University Press. 1969. Diterjemahkan oleh Masri Maris, Asal Mula Konflik Aceh, Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera Hingga Akhir Kerajaan Aceh ke-19. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, edisi kedua 2007), hlm. 3.
A. Hasjmy. 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu. (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 134.
Anonimous. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pemerintahan Mukim dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. (Banda Aceh, Biro Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2004), hlm. 4-5.